Tuesday, 8 July 2008

PBB dan PKS Menang di NTB

MATARAM -- Muhammad Zainul Majdi yang kerap disapa Tuan Guru Bajang dan Badrul Munir (Barru), memenangkan Pemilihan Kepala Daerah Nusa Tenggara Barat (Pilkada NTB) yang digelar Senin (7/7). Pasangan ini diajukan oleh Part

Berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Jaringan Isu Publik (JIP), Barru meraih 36,72 persen suara. Total raihan suara PBB dan PKS pada Pemilu 2004 --yang menjadi modal 'Barru'-- adalah 21,8 persen. Sementara pasangan Lalu Serinata-Husni Jibril (Serius), yang diusung Partai Golkar, PDIP, PBR, dan Partai Patriot, menempati urutan kedua dengan meraih 28,75 persen suara. Modal suara empat partai pengusung 'Serius' adalah 49,06 persen.

Dukungan terbesar untuk 'Serius' datang dari Partai Golkar yang saat ini mendapat 15 kursi DPRD NTB, PDIP (6 kursi), PBR (5), dan Patriot (1). Kekalahan pasangan 'Serius' ini, menambah panjang daftar calon kepala daerah Partai Golkar yang kalah. ''Hasil ini tidak akan jauh berbeda dengan hasil penghitungan KPUD,'' kata Direktur Eksekutif LSI, Denny JA, saat mengumumkan hasil hitung cepat bersama Manager Riset JIP, Arman Salman, di Mataram, kemarin. Hitung cepat, mengambil sampel 320 TPS.

Denny mengatakan ada empat peristiwa besar dari Pilkada NTB. Pertama, terpilihnya gubernur termuda di Indonesia. Tuan Guru Bajang baru berusia 36 tahun. Kedua, dia gubernur pertama dari kalangan ulama atau pemimpin ormas, yaitu Nahdlatul Wathan. Ketiga, Tuan Guru Bajang juga menciptakan sejarah sebagai kandidat dari partai kecil, namun mampu mengalahkan dua partai besar yakni Golkar dan PDIP. Keempat, partisipasi pemilih mencapai 74,38 persen. Dengan demikian, golput hanya 25 persen. Golput di NTB lebih kecil dari rata-rata pilkada yaitu 40 persen.

Soal kembali kalahnya calon Partai Golkar, Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, menilainya sebagai 'lampu kuning'. Apalagi, sebelumnya Golkar juga menelan kekalahan di Jawa Barat, Sumatra Utara, dan Jawa Tengah. Dua masalah utamanya, kata Qodari, pertama, karena Golkar selama ini selalu mencalonkan kepala daerah yang sedang menjabat (incumbent) yang tidak sukses. Kedua, kekalahan itu membuktikan militansi kader Golkar kalah oleh PDIP yang nasionalis, PKB yang NU, dan PAN yang Muhammadiyah. evy/ant

Sumber: Republika

No comments:

Post a Comment

Lihat profile Alim Mahdi sekarang
Kunjungi www.mastersop.com

Konsultan SOP dan Penggagas "GERAKAN PENGUSAHA SADAR SOP"