Saturday, 28 February 2009

ADAABUT TA' AAMUL FIL JAMA'AAH

Adab Berinteraksi Dalam Jamaah

Dalam berinteraksi dengan jama'ah pastilah banyak kendala yang akan kita hadapi. untuk itu kita perlu cukup ilmu untuk bisa mewujudkan Amal Jama'i yang ideal. Berikut ini adalah adab-adab dalam berinteraksi dengan Jama'ah. Nah...Selamat membaca dan mari kita praktekkan bersama.

"Sesungguhnya jika engkau tidak bersama mereka, maka engkau tidak akan bersama orang-orang selain mereka. Sementara jika mereka tidak bersamamu, mereka tetap eksis bersama yang lain."

Ungkapan di atas menyadarkan kita tentang kebutuhan kita akan jamaah dan untuk senantiasa berada dalam ruang lingkupnya, karena bila kita tidak lagi bersama mereka, tidak mungkin kita bergaul dengan orang-orang yang standarnya di bawah mereka. Sementara jamaah dan mereka yang ada di dalamnya akan terus eksis dan berjalan dengan atau
tanpa kita. Gamblangnya, masuk dan keluarnya kita dari jamaah tidak akan berpengaruh banyak apalagi sampai mengguncangkan jamaah. Dengan kata lain bila kita keluar dari jamaah, kitalah yang merugi. Sementara bagi jamaah boleh dibilang hampir tidak ada kerugian, karena begitu banyak yang siap menggantikan kita.

Karena itu keberadaan kita di dalam jamaah adalah anugerah Allah yang harus disyukuri dan dipelihara. Salah satu upaya menjaga karunia kesertaan kita dalam jamaah adalah dengan senantiasa berinteraksi secara intensif dengan dakwah itu sendiri dan semua elemen-elemen dakwah atau elemen jamaah. Yang terpenting tentu saja adalah dengan
dakwah atau jamaah itu sendiri, kemudian dengan mas'ul dan dengan sesama ikhwah dan juga dengan murabbi.

*****
A. Ma'ad Dakwah (Interaksi dengan dakwah)

1. At-takhally `an shillati bi ayyi haiatin aw jamaa'atin.
Melepaskan diri dari segala keterikatan dengan lembaga-lembaga atau jamaah-jamaah lainnya (terutama apabila diminta oleh jamaah untuk melakukan itu). Salah satu arkanul ba'iah adalah tajarrud yang penjabarannya adalah kita memberikan loyalitas, keterikatan dan ketaatan secara total kepada jamaah. Kalau kita memiliki kritik-kritik yang konstruktif terhadap jamaah bukan karena kita tidak tsiqah atau bahkan melirik jamaah lain. Sehingga bila jamaah menilai kita harus memutuskan ikatan dengan yayasan atau jamaah tertentu, karena dinilai membahayakan, seyogianyalah kita menerima dan menaati. Kecuali bila jamaah menugaskan di lembaga atau jamaah tertentu untuk tujuan tertentu.

2. Ihyaa'ul aadaatil Islamiyah (Menghidupkan kebiasaan-kebiasanIslam).
Tujuannya adalah agar kita tetap terpelihara di dalam ruang lingkup jamaah dengan hidayah yang diberikan Allah. Di antara usaha untuk terus meningkatkan kualitas keislaman dan keimanan adalah dengan selalu menghidupkan kebiasaan-kebiasaan Islami seperti menyebarkan salam, membaca doa-doa harian, mendahulukan anggota tubuh yang kanan dan lain-lain. Karena hanya dengan berupaya meningkatkan kualitas diri sajalah kita akan tetap terjaga, kebersamaannya dengan jamaah, dengan homogenitas kebaikan yang dimilikinya.

3. Ta'arruf alal ikhwati dua'ti ma'rifat taamati wayaal'aksa.
Berkenalan dengan para du'at dengan pengenalan yang sempurna dan sebaliknya mereka juga mengenal kita dengan sempurna. Selain untuk menunaikan hak-hak dan kewajiban ukhuwah, perkenalan yang intensif dan sempurna dengan para duat akan membuat kita dapat saling berkaca dan memacu diri. Apalagi dengan para ikhwah yang lebih dulu memasuki jamaah dibanding kita. Bukankah Rasulullah saw. bersabda, "Al-mu'minu mir'ah li akhihi" (mu'min cermin bagi saudaranya).

4. Adaaul waajibaatil maaliyyah (zakat, infak dsb) Menunaikan
kewajiban-kewajiban maaliyah seperti zakat, infaq, ta'awun dll). Takpelak lagi masalah ekonomi, maisyah atau maaliyah adalah hal yang penting yang harus diperhatikan oleh anggota jamaah. Untuk menunaikan kewajiban maaliyah di dalam Islam dan jamaah seperti zakat, ta'awun, infaq dan lainnya tentu saja harus diwujudkan dulu karateristik qaadirun alal kasbi di dalam diri anggota tersebut.

5. Nasyrud dakwah fi kulli makaan wa ahli alaa dzaalik. Menyebarkan
dakwah di setiap tempat dan membentuk keluarga-keluarga dakwah. Pembentukan pribadi muslim di dalam jamaah dimaksudkan tidak saja membuat seorang muslim menjadi saleh tetapi juga harus muslih. Jadi tidak hanya sekadar mengupayakan nilai-nilai kebaikan melekat dalam dirinya, melainkan juga mengupayakan agar keluarga dan masyarakatnya pun terwarnai oleh nilai-nilai kebaikan tersebut. Bahkan harus pula menjadikan keluarga sebagai pendukung-pendukungnya yang utama dalam dakwah.

6. At-ta'arrufu alaal harakati Islamiyah. Mengenal harakah-harakah
Islam. Keberadaan kita sebagai anggota di dalam jamaah ini tentu saja harus membuat kita semakin mengenal jamaah kita, sejarah, visi dan misinya, tokoh-tokohnya dll., sebagai sebuah harakah Islam. Dan sebagai bahan pembanding kita juga perlu mengenal harakah-harakah Islam lainnya. Tujuan mengenal harakah-harakah lainnya adalah mengambil kebaikan dari harakah lain, meninggalkan dan jika mampu meluruskan kekurangan dan keburukan dari harakah lain, berusaha saling bekerja sama dalam hal-hal yang disepakati, saling bertoleransi dalam hal-hal yang diperselisihkan, menjaga tali silaturahmi dan komunikasi, minimal antar qiyadah harakah.

*****
B. Ma'al Qiyadah
Qiyadah dalam dakwah memiliki hak seorang bapak dalam ikatan hati, hak seorang ustadz dalam hal menambah dan mentransfer ilmu, hak seorang syekh dalam memberikan tarbiyah ruhiyah dan akhirnya hak seorang komandan dalam menentukan atau memberikan kebijakan-kebijakan umum di lapangan dakwah. Dalam proses interaksi dengan qiyadahnya, seorang al akh dituntut supaya bisa berhubungan dengan baik sebagai perwujudan keqiyadahan
yang terdekat dengannya. Di antaranya ialah memperhatikan hak-hak qiyadah seperti tersebut di atas. Selain itu juga berusaha memenuhi hal-hal sebagai berikut:

1. Tha'at.
Seorang akh hendaknya senantiasa taat melaksanakan perintah-perintah dan arahan-arahannya dalam kondisi senang atau susah serta sulit dan mudah.

2. Tsiqah.
Seorang akh dikatakan tsiqah kepada qiyadahnya jika ia memiliki ketenangan dan ketenteraman jiwa terhadap apa-apa yang datang dari sang qiyadah. Ia tidak pernah ragu- ragu terhadap arahan yang datang darinya.

3. Iltizam.
Seorang akh harus berupaya menjaga, melanggengkan iltizam atau komitmennya kepada qiyadah dan jamaah dengan jalan keterbukaan menginformasikan kondisi diri secara obyektif, sehingga terjaga pula hubungan ruhiyah dan amaliyah dalam ruang lingkup berjamaah.

4. Memiliki sikap ihtiram (menghormati) qiyadah.
Bukanlah suatu ciri feodalisme jika kita menghormati atasan kita yang layak dihormati. Apalagi ia berfungsi sekaligus sebagai orang tua, guru, syekh dan qaid. Bukankah Islam mengajarkan kita menghormati orang yang lebih tua
dari kita dan banyak memberikan kebaikan untuk kita seperti orang tua, guru, syekh dan komandan.

5. Memberi nasihat, masukan, saran dan kritik secara halus dan sembunyi-sembunyi alias tidak di depan orang lain. Memang tak bisa dipungkiri, qiyadah adalah juga manusia biasa yang punya kekurangan dan kelemahan, namun bila kita ingin mengkritisi atau memberi masukan hendaknya dengan memperhatikan adab agar martabat atau izzahnya sebagai qiyadah tidak terlecehkan di hadapan orang lain.

*****
C. Ma'al ikhwah
Terhadap sesama ikhwah atau anggota jamaah kita pun dituntut untuk memiliki adab yang benar dalam berinteraksi. Beberapa hal di bawah ini penting diwujudkan dalam interaksi dengan sesama ikhwah agar suasana
ukhuwah benar-benar tercipta di dalam jamaah.

1. Selalu husnuz zhan (bersangka baik) dan bahkan berusaha mencarikan alasan untuk membelanya jika ada orang lain yang menghujat ikhwah tanpa alasan yang benar.

2. Memperlihatkan mahabbah atau rasa cinta pada mereka dan berusaha menahan emosi atau memaklumi kebodohan-kebodohan mereka.

3. Mendoakan mereka ketika kita berpisah atau sedang tidak bersama mereka. Dalam hadits disebutkan doa seorang muslim untuk saudaranya ketika berpisah atau sedang tidak bersamanya mustajab. Di sisi kepalanya ada malaikat yang setiap kali ia berdoa untuk saudaranya meminta kebaikan berkata malaikat: Amin dan bagimu hal yang seperti itu pula.

4. Tanashur, tolong-menolong sesama ikhwah sebagai realisasi ukhuwah.
"Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim atau dizhalimi," yakni engkau menghalanginya dari berbuat kezhaliman atau membebaskannya dari keteraniayaan.

5. Mengakui dan menghargai bantuan mereka di waktu lapang dan sempit,
serta merasakan dan menyadari bahwa kekuatannya, tidak dapat bergerak dengan sendirinya tanpa andil dan bantuan ikhwah lainnya seperti problem yang dialami dalam masalah maisyah, penyimpangan atau terkena fitnah.

6. Tidak menyukai atau tidak rela jika saudaranya berada dalam bahaya dan bersegera berbuat untuk mencegah atau menolak dan menyelamatkan saudaranya tersebut dari bahaya.

7. Memberikan tadhiyah (pengorbanan) terhadap sesama ikhwah.
Imam Hasan Basri berkata, "Tidak ada yang kekal dalam kehidupan ini, kecuali tiga hal; Pertama saudaramu yang kau dapati berkelakuan baik. Kedua apabila engkau menyimpang dari jalan kebenaran ia meluruskanmu dan mencegahmu dari keburukan. Tidak ada seorang pun selainnya yang mengontrolmu. Ketiga shalat berjamaah menghindarkanmu dari
melupakannya dan meraih ganjarannya."

*****
D. Ma'al Mu'ayidin (Bersama pendukung da'wah)
Seorang anggota jamaah adalah seorang murabbi bagi para mutarabbinya. Ia menjadi pintu gerbang yang akan menghantarkan mutarabbinya ke dalam jamaah. Agar bisa menjadi daya tarik dalam merekrut dan menghantarkan
muayidnya ke dalam jamaah, ia dituntut agar bisa berinteraksi dengan baik dan tepat dengan mutarabbinya di antaranya ialah:

1. Menghargai dan menempatkan diri mutarabbi secara seimbang atau
proporsional. Mereka bukan segala-galanya atau yang paling hebat dan penting sehingga seolah olah tidak akan ada yang dapat menggantikan mereka. Tetapi tidak pula meremehkannya, merendahkannya atau menempatkannya secara tidak proporsional di tempat yang tidak bernilai atau rendah dan tidak sesuai dengan mereka. Sehingga terkesan tidak
menghargai potensi dan bakat mereka.

2. Mendahulukan hal yang paling penting di atas hal yang paling
penting atau menggunakan skala prioritas. Dan yang pertama harus dilakukan adalah menumbuhkan akidah di hatinya.

3. Berhemat dalam menasihati mutarabbi sehingga bisa masuk dan meresap.

4. Meninggalkan cara-cara yang keras atau kasar walau dengan hujah yang benar.

5. Menghindari jawaban langsung atau to the point dan sanggahan yang ketus atau mematahkan.

6. Menghindari penghancuran potensi dalam meng'ilaj atau mengatasi permasalahan ringan atau dengan jalan membebani dengan beban berat yang tidak proporsional dan tidak mendidik.

7. Hati-hati terhadap pemborosan tenaga. Hendaknya kita memperhatikan tingkat kecerdasan dan ilmu mutarabbi sehingga tidak perlu berpanjang-panjang dalam membahas hal yang sudah jelas.

8. Setiap perkataan memiliki tempatnya masing-masing dan setiap tempat memiliki jenis perkataan yang cocok. Rasulullah saw. bersabda: "Berbicaralah pada manusia sesuai dengan kemampuan akal mereka."

9. Mempelajari kondisi mereka dan mengenali permasalahan –permasalahan mereka. Misalnya sebagai murabbi tidak langsung mencerca bila mad'u terlambat datang karena boleh jadi ada uzur syar'i yang tidak bisa diatasinya. Kemudian tidak mendikte dalam pekerjaannya dan tidak membebaninya dengan beban yang tidak sanggup ditanggungnya, karena
pepatah mengatakan bahwa Madinah tidak dibangun dalam waktu satu hari.

10. Jadilah teladan baginya dalam segala situasi.

11. Kontinyu mendakwahinya sampai tampak hasilnya.

*****
E. Ma'al Murabbi
Seorang anggota bisa masuk ke dalam jamaah adalah karena jasa murabbinya. Hal itu tidak akan pernah terhilangkan dari catatan malaikat Raqib, sehingga seyogianyalah tidak terhapus dari benak a'dha tersebut.

1. Menghormati mereka karena bagaimanapun Allah telah menjadikan
mereka sebagai sebab tergabungnya kita menjadi anggota jamaah ini. Dengan kata lain merekalah yang telah menghantarkan kita masuk ke dalam jamaah ini, walaupun kini kita telah menyamai atau bahkan mungkin melebihi atau melampaui mereka dalam hal wazhifah tanzhimiyah. misalnya.

2. Sesungguhnya mereka tetap gurumu dan bukan mantan guru atau sekadar orang yang pernah menjadi gurumu.

3. Terus mengingat-ingat kebaikan mereka dan melupakan kelemahan-kelemahan mereka jika memang ada.

Jika kesemua interaksi dengan keseluruhan elemen jamaah itu terjalin dengan baik, insya Allah akan terpeliharalah kekokohan iltizam kita dengan jamaah itu sendiri. Wallahu a'lam

source : unknown dari sini

No comments:

Post a Comment

Lihat profile Alim Mahdi sekarang
Kunjungi www.mastersop.com

Konsultan SOP dan Penggagas "GERAKAN PENGUSAHA SADAR SOP"