Tuesday, 3 February 2009

Andai Pahlawan Penakluk ‘DAVOS’ itu SBY, Presiden kita!

Rakyat Indonesia sambut kepulangan SBY atas keberaniannya melawan kecongkakan Perez di Davos. Maka, negara mana lagi yang akan meniru keberanian Indonesia?

Itulah bentuk dukungan kepada Perdana Menteri Turki , Recep Tayep Erdogan. Sejak pukul sembilan malam, ribuan orang telah bergerak menuju bandara internasional Ataturk, Istanbul. Mereka tampak melambai-lambaikan kain berwarna merah, yang ditengahnya terlukis bintang terapit bulan sabit: bendera Turki. Sebagian yang lain lagi mengibarkan bendera Palestina. Mereka berteriak: "O, büyük bir lider", "Selamat datang pahlawan kami!", "Selamat Datang 'Penakluk' Davos!", "Ahlan wa Sahlan Pemimpin Baru Dunia!".

Di malam yang gigil itu, mereka bergerak berduyun-duyun untuk menyambut kedatangan Perdana Menteri mereka, "Khoja Haji" Rajab Thayyib Erdogan (Turki: Recep Tayep Erdogan), yang baru saja meninggalkan KTT Ekonomi Internasional Davos yang digelar di Swiss.

Sebagaimana diketahui, di forum internasional World Economic Forum (WEF) yang digelar pada Kamis (29/1) kemarin itu, Erdogan melakukan aksi walk out sebagai protes keras kepada forum yang tidak memberikannya waktu untuk memberikan tanggapan atas pernyataan Presiden Israel, Simon Perez.

Perez, yang duduk tepat di samping kiri Erdogan, berbicara sekitar setengah jam mengenai alasan dan "pembelaan diri" Israel yang menyerang Gaza. Perez menyatakan jika serangan “teror” yang terus dilakukan Hamas adalah penyebab utama kenapa Israel pada akhirnya memutuskan untuk menyerbu Gaza.

"Hamas terus menembakkan roket-roket ke pemukiman Israel. Sebab itulah pada akhirnya Israel memutuskan untuk menyerang Gaza, markas Hamas," ungkap Perez dengan nada berapi-api.

Saat mengemukakan pernyataannya, Perez berbicara dengan nada tinggi,
juga beberapa kali menatap wajah dan mata PM Turki yang duduk tepat di samping kanannya.
Ketika giliran berbicara tiba pada Erdogan, PM Turki tersebut menanggapi pernyataan Peres dengan tanggapan yang tak kalah tegas, namun tetap dengan nada bicara yang kalem.

Ini sebagian cuplikan dialog tersebut:

Transkrip :
(moderator):
this has been a powerfull and passionate debate
ini telah menjadi perdebatan yang sangat seru dan penuh kemarahan
it’s a debate that could go on tonight for hours
ini debat yang bisa berlangsung sampai larut
but we’ve already gone well passed our closing time
Akan tetapi kita telah melewati batas waktu akhir
(erdogan: excuse me)
(erdogan: Maafkan saya)
(moderator): mr. prime minister…i would apologize to prime minister eragon
(moderator) : Pak Perdana Menteri… Saya mohon maaf kepada Perdana Menteri Erdogan
(erdogan: one minute.. one minute)
(erdogan: Satu Menit.. satu Menit)
(moderator: ) well..ok..but i’m gonna hold you to one minute please
(moderator: ) Baiklah.. ok.. tapi saya hanya akan membatasi satu menit saja
(PM Erdogan)
president perez you are older than i am and you have a very strong voice
presiden peres anda lebih tua dari saya dan anda bersuara keras anda
i feel that you perhaps feel a bit guilty and that’s why perhaps you have been so storng in your voice ..so loud
Aku rasa anda memiliki sedikit perasaan bersalah dan mungkin karena itulah anda bersuara keras.. sangat keras
but you killed people i remember the children who died on the beaches
Akan tetapi anda membunuh banyak orang, Aku ingat anak-anak yang terbunuh di pantai-pantai
and i remember two former prime ministers in your country who said that they felt they were very happy when they were able to enter palestine on tanks
dan aku ingat dua mantan perdana menteri di negaramu yang berkata bahwa mereka merasa amat Senang ketika mereka berhasil memasuki palestina dengan tank-tank.
now there were former prime minister who have said that they have been very satisfied with themselves when they entered palestine on tanks
Juga ada bekas perdana menteri yang mengatakan Sangat berPuas diri ketika tank-tank mereka menyerbu Palestina.
and i find it very sad that people applaud to wht you have said because there were many people who have been killed
dan menyedihkan sekali ketika orang-orang memberikan tepuk tangan kepada apa yang telah anda ungkapkan /utarakan /katakan karena telah begitu banyak orang yang terbunuh
and i think it is very wrong and it is not humanitarian to applaud to any action which have had that kind of a result
dan aku kira sangat salah dan sangat tidak berperikemanusiaan untuk memberikan tepuktangan kepada tindakan yang telah menimbulkan banyak korban
i’ve taken many notes but unfortunately there is no time to respond to all of them but i will just say two things
Saya telah membuat banyak catatan tapi kurang beruntung karena tidak banyak waktu untuk merespon semuanya tapi saya akan mengungkapkan dua hal saja
moderator: (excuse me.. we can’t start the debate again..pls.. we just dont hv time.. we really do need to take people to dinner)
moderator: Maaf..Kita tidak bisa memulai debat ini lagi.. Maaf.. Kita tidak mempunyai waktu.. kita harus segera untuk makan malam)
pls let me finish, let me finish
ijinkan saya menyelesaikannya..ijinkan saya menyelesaikannya.
First: sixth commandement: “thus shall not killed” but we are talking about killing.
Pertama: Poin ke Enam (dari 10 commandment) mengatakan : “maka janganlah membunuh” tapi yang terjadi adalah pembunuhan.
second point: Gilad Atzmon, says that it’s really barbarian.. and way beyond what it should be
Point Kedua : Gilad Atzmon, mengatakan itu perbuatan yang benar-benar Barbar… dan jauh melampaui batas..
then there is the international proffessor from Oxford university Avi Shlaim has said that .. this…
Kemudian seorang profesor dari Universitas Oxford, Avi Shlaim mengatakan demikian juga.
thank you very much 2x
Terima kasih ..terima kasih sekali
so i dont think i will come back to Davos after this because you dont let me speak
aku pikir aku tidak akan datang lagi ke Davos Setelah ini karena anda tidak mengijinkan aku untuk bicara
the president spoke for 25 minutes and i hv spoken only half of that.
presiden perez berbicara selama 25 menit dan saya hanya berbicara separo waktu dari itu.

Kemudian Erdogan Meninggalkan mengambil catatannya dan meninggalkan forum tanpa menengok kepada perez dan Ban ki-moon. dan di sambut oleh Amr Musa (ketua liga arab) dan dijabat tangannya.

Sungguh tindakan yang Berani yang semestinya di lakukan oleh seorang Muslim, melihat saudara-saudaranya di bantai. Seandainya para pemimpin dunia Islam termasuk Indonesia, khususnya dunia Arab, Punya Nyali seperti Erdogan tentulah, Darah Saudara kita di Gaza tidak akan begitu saja tertumpahkan, Namun nyatanya para pemimpin Arab utamanya, tidak lain hanyalah menjadi kaki tangan israel. Bahkan sampai detik inipun mesir masih menjadi penghalang di perbatasan Rafah.

Erdogan dengan Partai Keadilan dan Pembangungannya bukan kali ini saja berusaha memperjuangkan Nilai-nilai Islam, bahkan sebelumnya Partai yang dipimpinnya telah berhasil menggolkan masalah Jilbab, Sesuatu yang selama bertahun-tahun menjadi barang Haram dipakai di lembaga-lembaga resmi kenegaraan di Turki, Namun Alhamdulillah berkat perjuangan Partai Islamnya, sedikit demi sedikit nilai nilai Islam itu mulai di kembalikan, semoga saja Turki yang dahulu menjadi Pusat kekuasaan Islam dengan Khilafah Ustmaniyahnya akan kembali menjadi Benteng Umat lagi setelah di hancur leburkan oleh Mustafa Kamal ataturk, seorang laki-laki bejat keturunan Yahudi sisilia yang di susupkan ke militer Turki untuk kemudian mengkudeta Sang Khalifah Abdul Hamid II dan mengganti sistem khilafah menjadi sistem sekuler, saking sekulernya sampai Azan pun tidak boleh pakai Bahasa Arab.

Demi Allah saudaraku, Kalau saja semua pemimpin pemerintahan Berani dan hanya takut kepada Allah saja, Niscaya Masjidil Aqso, tempat suci Ketiga setelah Makah dan Madinah, tidak akan di injak-injak kaki-kaki najis Yahudi. Wallahu’alam.

1 comment:

  1. Assalamu alaikum ya akhi, artikelnya bagus sekali dan dapat membakar semangat kita sebagai muslim...
    by http://bendeddy.wordpress.com

    ReplyDelete

Lihat profile Alim Mahdi sekarang
Kunjungi www.mastersop.com

Konsultan SOP dan Penggagas "GERAKAN PENGUSAHA SADAR SOP"