Berebut Kantong Plastik Dengan Seorang Kader PKS

2/04/2013 Alim Mahdi 6 Comments

Oleh: Sunaryo Adhiatmoko (@sunaryojati)
Pada 2007, Bengkulu Utara diguncang gempa hebat. Salah satu lokasi yang cukup parah, ada di Desa Penyangkak. Kala itu, ketika saya datang, Penyangkak setatusnya masih dusun. Sejak emergency hingga recovery, saya dapat pelajaran banyak ikut membangun bangkitnya kampung itu. Kordinator relawannya bahkan jadi Kepala Desa Penyangkak kini. Namanya Pak Hamdan.
Penyangkak persis di Jalur antar propinsi. Amat strategis. Suatu sore pada 2007, saya berbincang dengan Pak Hamdan, tentang mimpi suatu hari Penyangkak jadi desa persinggahan orang untuk sholat. Obrolan itu, sepertinya terlempar ke langit dan diturunkan jadi kenyataan. Hari ini, Penyangkak punya masjid yang dibangun Dompet Dhuafa Republika. Di area masjid, sekaligus jadi kantor balai desa. Masjid, juga jadi tempat persinggahan banyak orang yang melalui jalur Bengkulu Utara.
“Alhamdulillah masjid di penyangkak ramai sekarang mas. Banyak orang yang singgah untuk sholat”, terang Pak Efendi tadi pagi melalui telepon.
Sudah empat tahun, saya tak kontak Pak Fendi, biasa saya sapa. Tapi, lepas subuh tadi, saya ingat lelaki paruh baya bertubuh tinggi ramping ini. Sayang, saya ingat Pak Fendi pada saat kurang tepat. Yakni, saat hari ini tengah mendidih kasus LHI ditangkap KPK.
Pak Fendi, puluhan tahun jadi pendamping masyarakat, sebelum saya mengenalnya. Pribadinya menyenangkan, kadang jika diskusi serius gayanya agak meledak. Tapi mudah reda. Ketika dua hari pasca gempa Bengkulu 2007, Pak Fendi mendampingi saya dan kawan-kawan.
Situasi masyarakat saat itu, agak kalut. Kami dicegat warga di ujung Desa. Tokoh yang menggerakkan warga untuk mencegat, namanya Johan.  Barang yang kami bawa diturunkan paksa. Tapi, Johan tak segarang yang saya bayangkan. Sejak peristiwa itu, dia balik mendukung saya dan kawan-kawan. Bahkan komunikasi terjalin baik sampai saat ini.
“Bacain sholawat, nanti juga hatinya lembut”, kelakar saya agak serius.
Pak Fendi secara usia sudah berumur. Tapi, masih tampak gesit.
“Kemanapun Mas Naryo pergi, akan saya dampingi”, katanya semangat. Meski saya sempat ragu pada ketahanan fisiknya.
          “Saya dan temen-temen tinggal di tenda lo Pak. Siang saja nemaninya”, saya menjelaskan.
          “Sampean meragukan saya? Jangan gitulah, saya terasa lebih muda kumpul antum semua”, pintanya gigih.
          Saya hanya kenal Pak Fendi sebagai aktivis sosial. Belum kenal jauh, siapa sejatinya dia. Mulai hari itu, kami bikin bedeng sederhana di Penyangkak, untuk bersama warga bangun kampung yang runtuh oleh gempa. Bedeng itu, sekaligus jadi masjid darurat. Tiap Magrib dan Subuh, kami saling menguatkan akidah warga korban gempa, untuk tak jauh dari Allah SWT. Esok pagi hingga siang hari, kami singsingkan lengan baju bareng-bareng bangun rumah.
          Pengalaman di lapangan bersama Pak Fendi yang tak mungkin saya lupa, saat kami harus buang hajat (maaf buang air besar). Tidak ada MCK di kampung itu. Budaya warga, biasanya buang hajat di kebon dan hutan. Tapi, kami melakukan dengan cara berbeda.
Lepas subuh, saya, Pak Fendi dan yang lain berebut cari kantong plastik. Lalu, menyingkir ke semak belukar di tepi hutan. Paket dalam plastik itu lalu diikat, kemudian dilempar sejauh-jauhnya ke tengah hutan. Itu, moment terindah kami saat menunaikan hajat. Di tengah penat dan ketegangan mengurus warga, biasanya kejadian lepas subuh itu, kami jadikan bahan bercanda.
Pengalaman yang paling heboh, saat relawan kami sedang asyik di semak belukar, lalu terdengar berisik di belakangnya. Setelah dia menoleh ke belakang, gerombolan babi hutan sudah menunggu. Kaburrrrr, teriak paniklah dia. Kami kecut juga terbahak-bahak.
Hampir sebulan bersama Pak Fendi, saya baru tahu siapa lelaki yang kemana-mana naik motor ini. Mulanya, saya baca koran lokal tentang statement keras, seorang anggota dewan Bengkulu tentang lambannya penanganan korban gempa. Tapi, namanya kok Efendi. Pas lihat fotonya, persis yang lagi sama saya berebut plastik untuk buang hajat itu.
“Ini Pak Fendi”, selidik saya sembari menyodorkan halaman utama koran.
“Ah, bukan. Kembaran kayanya mas”, dia terkekeh mesem. Pertanda benar.
Hampir setahun saya bolak-balik Jakarta – Bengkulu. Kali lain, saya baca koran lokal tentang tuntutan melawan korupsi. Lagi-lagi selalu Efendi anggota DPR dari PKS yang bersuara. Dia jadi anggota DPRD Bengkulu Utara tahun 2004 – 2009.
Jelang akhir jabatannya, Pak Fendi ke Jakarta dan singgah ke rumah saya di Depok. Dia tak mau saya tawari nginap di rumah. Tapi, milih dicarikan penginapan. Pesannya yang murah dan nyaman. Dapatlah kamar Rp 150 ribu/malam dengan pendingin kipas angin, di penginapan bilangan Auri. Esok pagi, saya jemput keliling naik sepeda motor.
Tadi pagi, diujung telepon saya tanya apakah masih jadi anggota dewan. Pak Fendi menjawab cukup sekali saja. Badan rasanya remuk.
“Cukuplah sekali saja. Saya juga bukan kader berprestasi ini, belum bisa kasih konribusi apa-apa buat masyarakat dan partai”, akunya merendah.
“Tapi masih jadi kader kan?”, sindir saya.
“Hehehe, lha ini gak tau mas, gak bisa apa-apa masih dipakai”, kelakarnya sembari meyakinkan masih jadi kader PKS.
          Cara pembawaan Pak Fendi di masyarakat, memang tak meyakinkan jika ia seorang anggota dewan. Berkilo-kilo meter, dulu ia lalui dengan sepeda motor sampai hari ini, mendampingi masyarakat untuk program pemberdayaan. Gaya-gaya seperti itu yang saya yakini meyakinkan masyarakat, kemudian percaya PKS, partai yang bersih dan bekerja untuk rakyat.
          “Sibuk amat nulis esay PKS mas”, sindir teman melalui pesan FB.
          “Saya ogah nulis PKS bos. Saya nulis teman-teman saya yang berkerja untuk masyarakat. Kebetulan mereka jadi anggota dewan dari PKS. Momentnya juga lagi pas hehehe”, balas saya.
          “Dapat apa dong”, kejarnya.
          “Semoga dapat kebaikan. Setidaknya, saya jadi saksi di hadapan Allah, bahwa teman yang saya tulis itu orang baik. Bahkan jika ada petinggi PKS ada yang khilaf dan baca esay saya, mereka melihat ketulusan kader-kader di bawahnya yang zuhud dan tulus, gak tergoda mobil mewah, rumah megah, apalagi jam rolex. Mencontoh jangan melulu ke atas, ke bawah juga biar tetap menjejak bumi”, timpal saya panjang.
          “Iya juga ya. Timbang pada sibuk bikin status konspirasi, kriminilasisasi, dan fitnah mending menulis beginian ya”, tulisnya lagi.
          “Ya, saya cuma ikhtiar mencatat kebaikan orang-orang yang saya kenal. Suatu hari, saya juga bisa nulis teman anggota dewan dari partai lain. Tapi, belum punya hehehe”, pungkas saya.


6 comments:

  1. saya salut dengan sosok Bapak Efendi , semoga sukses selalu .

    ReplyDelete
  2. semoga kebaikan agan mencatat amal baik teman-temannya dicatat oleh Malaikat baik .

    ReplyDelete
  3. kirain berebut kantong plastik apa , ternyata itu berebut kantong plastik buang hajat . hehe agan ini lucu . Semoga kebaikan agan dan teman-teman dibalas Tuhan YME .

    ReplyDelete
  4. semoga kebaikan agan mencatat amal baik teman-temannya dicatat oleh Malaikat baik

    ReplyDelete

Lihat profile Alim Mahdi sekarang
Kunjungi www.mastersop.com

Konsultan SOP dan Penggagas "GERAKAN PENGUSAHA SADAR SOP"