Teman PKS Saya yang “Aneh”

Tuesday, 1 January 2013

print this page
send email
Pak Muslih (Tiduran)
Mengutip istilah KPK, saya menyebut LHI. Ketika LHI ditangkap dalam posisi sebagai Presiden PKS, saya membayangkan kecutnya mesem Pak Muslih di Pacet, Mojokerto. Tak berani saya SMS, ataupun berkirim pesan melalui FB. Tapi, saya yakin dia selalu membaca status FB saya.

LHI ditangkap, mungkin banyak yang bersorak. Tapi tak sedikit yang sedih, diantaranya Pak Muslih, mungkin. Tapi mujahid tidaklah lemah bersedih saat diuji, Pak Muslih seperti kader yang lain makin mengeras lebihi baja. Saya mengenalnya sejak 2003, melalui guru menulis saya, Mas Hadi Mustofa. Keduanya, dulu aktivis di kampusnya yang gigih memperjuangkan dakwah kampus dan hijab bagi muslimah. Saat Soeharto sedang garang-garangnya.

Pada perkenalan pertama, saya dijemput dengan sedan Toyota Corola tahun 80 an, warna merah. Rumahnya, juga baru saja dibangun permanen. Ia pedagang dan peternak kambing. Dulu peternak ayam saat kuliah. Bahkan dengan ternak ayamnya itu, ia jadi donatur saat mengundang Emha Ainun Najib ke kampusnya di Malang.

Di Pacet, Pak Muslih kepala desa yang cukup dicintai masyarakatnya. Sebagai daerah wisata, ia berjuang agar tak ada investor luar menguasai hotel dan penginapan, tapi warga lokal harus jadi pemilik. Itu berhasil sampai hari ini.

Saya belajar diam-diam tentang kesederhanaan dan bagaimana memegang kekuasaan, salah satunya pada Pak Muslih. Pribadi sederhana, rendah hati, dan punya jiwa sosial. Tiga kali jadi Kepala Desa, mungkin, jika tak memaksa pensiun bisa didaulat jadi Kades seumur hidup.

Kerap saya dan Pak Muslih punya program bersama. Terkait program pemberdayaan masyarakat dan membantu masyarakat tidak mampu. Tapi, pada 2007 – 2009 saya putus silaturahim. Aktivitas saya yang padat, membuat tak lagi sering ke Pacet mengunjungi Pak Muslih.

Baru pada 2010 saya menghubunginya kembali. Saya datang ke rumahnya di Pacet yang sejuk. Rumahnya masih seperti dulu. Ada ruangan khusus dijadikan kantor BMT, untuk membantu masyarakat sekitar mendapat modal bantuan secara syariah. Mobilnya juga tak bertambah, masih yang dulu. Tapi tampak makin tua dan kelihatan bocor jika musim hujan.

"Masih nyaman, gak mogok mesinya", kelakarnya.

Tapi kali ini Pak Muslih bukan Kades lagi. Saya cukup kaget, Pak Muslih sudah jadi anggota DPRD dari PKS. Kereeennn, guman saya. Namun tetap tak kelihatan keren. Dia tak ada yang berubah, tetap seperti dulu. Ke parlemen daerah juga kerap naik motor. Kadang naik sedan tuanya. Ada teman saya yang sama-sama dulu aktivis sosial, juga sudah jadi anggota dewan. Tapi, style nya beda. Bedaaaa. Tampilan wajah dan gaya serta tunggangannya baru.

Pekan lalu, sebelum LHI ditangkap, saya dari rumah Pak Muslih. Kami punya program untuk masyarakat miskin di Jawa Timur. Programnya terkait daging, tapi bukan daging impor. Melainkan pemberdayaan peternak gurem. Dia pribadi yang profesional, mampu menempatkan kepentingan partai sama pribadi. Saya tak pernah kecewa dengan caranya memegang amanah.

Sampai pekan lalu, Pak Muslih tak ada yang berubah seperti saat 2003 saya bertemu. Jauh sebelum jadi anggota DPR. Dia masih bersahaja, naik sepeda motor dalam beraktivitas, dan mobilnya masih yang merah itu. Tapi, kali ini ada yang istimewa. Pintu mobilnya mulai tidak rapat dan ban empat-empatnya sudah gundul. Jika ditanya kenapa tak ganti mobil? Ia hanya terkekeh sembari berdehem.

Sempat terbesit pencitraan. Tapi, apa yang harus dipoles? Dari dulu Pak Muslih begitu adanya, jauh sebelum dia dilirik PKS. Teman saya, seorang pengusaha dari Klaten dan Bali yang ikut ke rumah Pak Muslih pekan lalu berbisik, "Coba mas semua anggota dewan itu begini. Mungkin Indonesia akan cepat sembuh penyakit korupsinya".

Kemarin, setelah heboh LHI, teman pengusaha saya di Klaten kirim pesan singkat, "Masya Alloh mas, itu suruh semua pada belajar sama Pak Muslih". Saya menghiburnya melalui telepon, pada kenyataannya kita memang tak diijinkan Allah SWT menyetempel diri sebagai manusia atau kelompok terbaik.

"Apa ini konspirasi mas?" cecar teman Klaten saya ini.
"Betul mas. Saya haqul yakin ini konspirasi", jawab saya meyakinkan.
"Siapa mas?" penasaran dia.
"Alloh SWT mas. Dia yang punya kekuasaan menegur orang-orang baik", tandas saya.
"Astaghfirullah", sahutnya.
"Kalau Amerika sama Yahudi mas?" tanyanya masih penasaran.
"Mas, konon di KPK itu tak sedikit kader-kader hebat PKS bahkan ketua KPK nya juga disebut kader PKS. Sampean percaya kader PKS didikte Yahudi?"
"Wis embohlah", teman saya putus asa.

Tapi, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, bagi saya PKS aset bagi sebagian Umat Islam. Hanya, ujian pada kesederahanaan, keperihan dan keprihatinan seorang pemimpin yang perlu terus ditempa. Keteladanan Nabi dan para sahabat yang wajib terus ditiru. Tak kan hina, seorang pemimpin tidur beralas tikar berperih perut. Tak kan nista, seorang pemimpin tampil dalam wujud yang pantas.
Saya belajar pada Pak Muslih. Semoga tulisan ini, jadi pemantik teman-teman untuk menulis tokoh-tokoh lokal yang hidup dalam kesederhanaan dan berpegang prinsip. Jika kita meyakini, banyak orang-orang seperti Pak Muslih di partai politik manapun, kabarkan pada dunia bahwa belum kiamat kepemimpinan di negeri ini.

Mohon maaf Pak Muslih, saya menulis tanpa minta ijin. Terima kasih atas inspirasinya. (Oleh: @sunaryojati)




















1 komentar:

Butuh Kost Elit Harian atau Bulanan?
Kunjungi www.carikamarkos.com

Tersedia juga ratusan Daftar Alamat Lengkap Kost Di Bali, beserta nomor telponnya.

moment in time whitney houston whitney houston

Powered by mp3ruler.com